Minggu, 12 Juni 2016

Kamukah itu?

Kamu...
ya kamu yang tetiba memintaku mengenalmu
Awalnya kukira kamu seperti yang lain
Hanya akan melambungkan sementara...
tetapi...
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
bersambung

Rabu, 25 Desember 2013

Kicauanku

daramatis karena sebuah kenekadanuntuk terjun tanpa mengembangkan parasut
ketika tersadar
parasut itu telah terkoyak
"kecelakaan" pun terjadi
aku mengalami fraktur
aku sekarat
meskipun terselamatkan
tetapi aku koma

kini...
aku bukan aku lagi
bagiku, aku adalah orang lain
yang tak kukenali dengan warna-warninya

Selasa, 02 April 2013

corat-coret

Jalan dakwah adalah jalan yg penuh dengan duri yang tajam, akan banyak rintangan dan tantangan yang bakalan dihadapi
jadi jika kita terjun dalam jalan ini hanya karena 'ero nikana' atau bahasa kerennya riya', ingin dipuji maka dia akan segera tersingkir
kecuali jika ditengah jalan ternyata niatnya berubah lillahi ta'ala
insya Allah dia akan diistiqamahkan oleh Allah Azza wa Jalla...

Senin, 25 Maret 2013

Cara Kita Memang Sedikit Berbeda


Menjaga diri dari 'stimulan' yang membutuhkan respon
amatlah susah
karena setiap 'aksi' menimbulkan reaksi
entah itu mendiamkan, menjudeskan diri, menyambut ramah, atau bereaksi dengan berbagai bentuk reaksi lainnya

seiap orang punya cara tersendiri, punya imun sendiri ketika harus melawan virus-virus yang hendak menyerang
ada yang dengan gagah berani mengibaskan pedangnya, ada pula yang berlindung diri, bersembunyi dibalik hijab, menghindari segala virus yang hendak siap menggerogoti setiap arus hidupnya.

sungguh semua itu butuh keberanian, kekuatan dan juga pengorbanan..

namun terkadang kita hanya menilai dari dampak di dunia tanpa melihat dampak akhirat
dengan picik kita mengolok 'pertahanan' mereka hanya karena caranya yang berbeda dari kita
terkesan ekstrim, terlalu kaku, terlalu takut dan terlalu..terlalu lainnya....
namun kita paham maksud yang ingin ditunjukkan MENJAGA DIRI

Rabu, 20 Maret 2013

Gelap

dunia semakin gelap, kelam...
namun seperti malam
semakin larut...
maka semakin dekat fajar
mentari sebentar lagi akan tersenyum....

Rabu, 06 Maret 2013

PELANGI DI AKHIR PENANTIAN


Islam tidak pernah mengharamkan cinta. Karena cinta adalah nafas kehidupan. Dengan cinta hidup lebih berwarna penuh dengan cerita indah. Namun ketika cinta itu berbicara kepada lawan jenis, maka hanya ada dua pilihan, menikah atau memutuskan cinta.
“Aira… “ucapnya tersenyum sambil mengulurkan tangannya.
“Mari ikut denganku.”lanjutnya.
Entah kenapa aku menyerahkan tanganku untuk digenggam olehnya. Padahal aku menyadari bahwa kami bukan mahram, belum ada ikatan yang menghalalkan kami bergenggaman tangan. Wajahnya yang teduh, sinar matanya yang berbinar menyihir tubuhku untuk mengikuti permintaaanya.Dia tersenyum menyambut tanganku. Kami melangkah bersama menuju cahaya yang begitu terang.
“Hore..goal..goal..”
Kening Aira berkerut, tiba-tiba ada teriakan yang begitu jelas dalam pendengarannya, teriakan yang mengusik suasana indah yang sedang dinikmatinya.
“Aira..Aira....”
“Iih Humairah kok tidur sih…”
Aira seketika terbangun mendengar teriakan yang lebih jelas lagi di telinganya. Dia linglung dalam sadarnya, nafasnya tidak beraturan. Mimpi yang sangat nyata, senyumnya, kerling matanya dan yang tidak bisa terlupakan adalah sinar wajahnya yang teduh. Tiba-tiba hatinya merindu, tetapi entah kepada siapa. Sosok di dalam mimpinya pun tidak jelas ada tidaknya dia.
“Eh, malah melamun. Mimpi apa sih, Neng.”tegur Desi. Aira tersadar meskipun belum maksimal. Seingatnya dia ia sedang menemani Desi nonton bola, tayangan yang selalu dinantinya, bukan karena permainan atau hobby tetapi karena dia ngefans kepada salah satu pemainnya, Mesut Ozil, salah satu pemain asal Jerman yang poster-posternya telah memenuhi dinding-dinding kamarnya.
“Jam berapa?”tanyanya sambil mengucek-ucek mata.
“Jam 3.”jawabnya singkat, Desi masih serius memandangi TV, belum separuh permainan tetapi beberapa gol sudah tercipta.
“Shalat Tahajud yuk, nontonnya dilanjut nanti saja, ba’da shalat.”ajak Aira kepada Desi agar dia tidak hanya memikirkan kenikmatan dunia saja, tapi akhirat juga.
“Nanggung nih, duluan aj, aku nyusul.”jawab Desi tanpa mengalihkan perhatiannya.
Aira bangkit dari duduknya, dia masih resah pada mimpinya barusan, ada sesak terasa di dadanya. Dia mencoba mentadabburi setiap tetesan air wudhu yang mengalir di permukaan kulitnya, sejuk hingga menyusup kepori-pori. Perlahan sesak itu menghilang. Aira menunaikan shalat tahajud empat rakaat ditutup dengan tiga rakaat shalat witir.
***
Matahari telah condong ke arah barat, beberapa menit lagi memasuki waktu azhar, masjid telah ramai bersahut-sahutan dengan lantunana muratal dari beberapa qari, mulai dari Syeikh Mishary Al-Ifasi, Syeikh Hanie Rifai, serta Ust. Abu Usamah, lantunan Al-Qurannya kadang menyejukkan kadang pula menusuk-nusuk hati menyesakkan dada, sehingga kita dipaksa untuk menitikkan air mata. Aira mampir ke masjid kampus yang sudah terlihat sangat ramai. Pasti di dalam sudah full dan mukena masjid sudah terpakai semua, untungnya aku membawa mukena sendiri dari kost.
“Eh… Masjid di sini qarinya beda ya, bukan dari radio-radio kayak masjid lain tapi dibaca langsung oleh qarinya.”
Masya Allah, bacaannya sangat indah. Bisik Aira dalam hati. Hatinya bergetar hebat mendengar suara itu. Tidak asing. “Airaa..” suara dalam mimpinya teringat kembali.
***
Ar Rahman…
Allamal quran, khalaqal insan…
Suara itu. Aira tersentak mendengar suara lantunan Al-Quran yang terdengar di Masjid dekat kostnya. Suara itu yang tadi dia dengar di masjid kampus. Apakah dia tinggal di daerah dekat sini? tanya Aira dalam hati. Dia penasaran kepada pemilik suara itu, karena suara itu mirip dengan suara di dalam mimpinya. Apakah dia benar nyata?
Buru-buru Aira mengambil mukenanya, terus berangkat ke Masjid. Untuk pertama kalinya dia shalat Subuh di Masjid dekat kostnya. Hanya karena ingin mengetahui sang pemilik suara. Ketika berada di gerbang masjid suara itu berhenti, Aira mempercepat langkahnya. Hanya seorang yang ada di dalam masjid. Tidak salah lagi dialah pemilik suara itu, yakin Aira. Lelaki itu melangkah keluar masjid menuju tempat wudhu. Aira menantinya di depan pintu masjid, dia belum bisa melihat dengan jelas wajah lelaki itu. Saat kembali, Aira memperhatikan wajahnya dengan seksama, karena merasa diperhatikan lelaki itupun menatap Aira. Keduanya sama-sama terkejut. Hati Aira tiba-tiba berdesir hebat. Airmatanya ingin tumpah. Wajahnya, matanya, mirip dengan sosok dalam mimpinya. Diakah?
Lelaki itu melemparkan senyumnya kemudian meninggalkan Aira yang masih terlihat bingung. Lelaki itu pun terlihat gugup, dia merasa pernah melihat wanita di depannya tadi, tapi dimana?
Entah kenapa Aira terus mengingat lelaki yang tak dikenal namanya itu. Sejak pertemuan di masjid itu bayang-bayangnya selalu menghiasi alam bawah sadarnya. Hingga suatu hari Aira mendapatkan informasi tentangnya, gratis tanpa meminta. Mulai dari namanya, aktivitasnya hingga nomer HP sang ikhwan. Dan hal yang membuat Aira lebih tercengang lagi, ternyata mereka sepondok, hanya terpisah beberapa meter dari kamarnya. Aira juga bingung kenapa semudah itu dia bisa mendapatkannya tanpa dia minta, apakah dia benar-benar yang ditakdirkan untukku? pikir Aira. Pikiran yang membuat hatinya melayang serta terhempas ke tanah setelah melayang tinggi karena dia tersadar bahwa sang ikhwan tidak mengenalnya sama sekali.
***
Tak jarang mereka berpapasan atau beriringan ketika akan ke kampus. Ketika tiba-tiba mereka saling beradu pandangan, mereka hanya bisa kembali tertunduk sementara hati Aira denyutannya menjadi semakin lemah, lemah, mungkin karena sudah terlalu lelah berdesir dengan hebatnya,
Di pondok, Aira sering mendapati si ikhwan yang kini dia tahu bernama Muflih, duduk di teras. Aira tidak bisa menahan dirinya untuk tidak memperhatikan di balik jendela kamarnya tapi dengan segera dia beristighfar. Atas keinginan hatinya menikmati sesuatu yang belum halal baginya. Lantunan ayat-ayat suci mengembang dalam alunan tilawah dari MP3-nya. Getaran hati tersayat dalam setiap alunan tilawah itu. Serasa airmatanya akan tumpah karena dosa-dosa yang telah menjadikannya lalai mengingat-Nya.
***
Terlihat senja telah memerah. Aira dan beberapa akhwat lainnya langsung berpamitan kepada Mbak Farah, murabbiyah mereka. Dalam perjalanan pulang, Aira masih memikirkan materi yang baru saja dia dapat. Munakahat, ta’aruf.
”Jika Kak Muflih nggk ngajak aku ta’aruf! Ya, kenapa aku harus menunggunya mengajakku . mengapa bukan aku saja yang mengajaknya berta’aruf duluan?Bukankah bunda Khadijah dahulu yang melamar Rasulullah?”wajah Aira berubah cerah, malam itu juga dia menyusun proposal ta’aruf untuk diserahkan kepada Muflih, tentu saja melalui murabbinya.
Keesokan harinya, Aira bagai tersengat listrik ketika mendapati kabar bahwa ikhwan yang telah memenuhi seluruh ruang dalam hatinya akan keluar negeri melanjutkan pendidikannya. Namun sebelum pergi, Kak Muflih akan menikah terlebih dahulu, proposal ta’arufnya telah dia serahkan kepada murobbinya dan proposal itu sudah sampai kepada murobbiyah si akhwat yang Muflih inginkan. Berita itu dia dapat dari pacar Desi, teman kostnya, yang merupakan teman dekat Muflih.
Hati Aira hancur, batinnya meringkih, airmatanya tumpah meskipun telah dia tahan dengan kuat. Ingin segera dia adukan sakitnya kepada Rabb-Nya. Dia berlari menuju kamarnya, menutupnya rapat-rapat, mengunci, sembunyi dibalik selimut tebal. Dia tidak ingin seorang pun tahu perih hatinya. Cukuplah Allah dan dia yang mengetahui semua ‘kecerobohannya’ dalam memelihara hatinya sendiri. Dikeluarkannya HP dari sakunya, mencari nama dari list phonenya. Ahmad Muflih Najib, dia pun mengetik beberapa kata untuk dikirimkan.
Kak, aku sakit, aku iri kepadanya yang akan segera memilikimu.
Apakah sayapmu tidak cukup untuk membawaku juga terbang bersama kalian dalam mahligai rumah tangga?
Sms itu urung dikirimkannya. Kemudian beristighfar beberapa kali hingga dia tertidur. Matanya sembab, bekas-bekas airmata sangat jelas terlukis di wajahnya, menjelaskan luka yang teramat dalam.
Aira berusaha bangkit dalam keterpurukannya, sudah tiga hari dia kurang nafsu makan, semangat belajarnya menurun, dan hal yang paling membuat teman-temannya merasa heran adalah wajah sumringah yang selalu dipamerkannya tiba-tiba menghilang, hanya senyum tipis yang selalu menghiasi wajahnya. Tidak ada lagi celetuk-celetuk jenaka darinya. Dia sedang berusaha bangkit, menaklukkan dirinya sendiri.
Proposal? Tiba-tiba dia teringat proposal yang telah dibuatnya untuk Muflih. Tapi dia lupa dimana proposal itu sekarang. Ahh bodoh amat, nggk guna juga buatku. Yang dituju udah mau nikah.
Aku bisa keluar dari masalah ini. Ucapnya optimis dibarengi dengan senyum yang sangat dipaksakannya.
Akhirnya dia bisa melupakan segalanya hanya dalam beberapa hari, wajahnya kembali ceria, ibadahnya semakin rajin dari biasanya. Sujud dalam shalat malamnya semakin lama. Aira sangat menikmati masa-masa berkhalwat dengan Tuhannya. Dia sadar sudah sangat lama dia lalai dari rutinitasnya, mendahulukan Allah di atas segala-galanya.
***
“Aira..”cegat Mbak Farah sehabis liqa. Kening Aira mengerut, keheranan, tidak seperti biasanya Mbak Farah menahannya sehabis liqa. Mbak Farah hanya tersenyum dan menyerahkan sebuah amplop berwarna cokelat, warna kesukaannya.
“Apa ini, Mbak?”Aira semakin heran dan penasaran
“Buka saja, istikharahkan. Amplop ini sudah ada seminggu yang lalu. Tetapi Mbak lupa berikan ke kamu, afwan ya,” ucap Mbak Farah sambil menepuk pundak Aira.
Aira membuka amplop yang diberikan Mbak Farah, betapa terkejutnya dia saat melihat isinya. Beberapa lembar berisi biodata dan satu lembar foto. Foto seseorang yang sangat dia rindukan senyumnya, keteduhan wajah dan binar matanya.Benarkah dia?
Buru-buru dia membaca lembar biodata di tangannya. Nama seorang ikhwan yang amat dikenalnya, Ahmad Muflih Najib. Masya Allah. Alhamdulillah, Aira sangat bersyukur atas karunia yang telah diberikannya-Nya.

Newbie !

Assalamu'alaykum..^_^

Template by:

Free Blog Templates