Islam tidak pernah mengharamkan cinta. Karena cinta adalah nafas
kehidupan. Dengan cinta hidup lebih berwarna penuh dengan cerita indah. Namun
ketika cinta itu berbicara kepada lawan jenis, maka hanya ada dua pilihan,
menikah atau memutuskan cinta.
“Aira… “ucapnya tersenyum sambil mengulurkan tangannya.
“Mari ikut denganku.”lanjutnya.
Entah kenapa aku menyerahkan tanganku untuk digenggam olehnya.
Padahal aku menyadari bahwa kami bukan mahram, belum ada ikatan yang
menghalalkan kami bergenggaman tangan. Wajahnya yang teduh, sinar matanya yang
berbinar menyihir tubuhku untuk mengikuti permintaaanya.Dia tersenyum menyambut
tanganku. Kami melangkah bersama menuju cahaya yang begitu terang.
“Hore..goal..goal..”
Kening Aira berkerut, tiba-tiba ada teriakan yang begitu jelas
dalam pendengarannya, teriakan yang mengusik suasana indah yang sedang
dinikmatinya.
“Aira..Aira....”
“Iih Humairah kok tidur sih…”
Aira seketika terbangun mendengar teriakan yang lebih jelas lagi di
telinganya. Dia linglung dalam sadarnya, nafasnya tidak beraturan. Mimpi yang
sangat nyata, senyumnya, kerling matanya dan yang tidak bisa terlupakan adalah
sinar wajahnya yang teduh. Tiba-tiba hatinya merindu, tetapi entah kepada
siapa. Sosok di dalam mimpinya pun tidak jelas ada tidaknya dia.
“Eh, malah melamun. Mimpi apa sih, Neng.”tegur Desi. Aira tersadar
meskipun belum maksimal. Seingatnya dia ia sedang menemani Desi nonton bola,
tayangan yang selalu dinantinya, bukan karena permainan atau hobby tetapi
karena dia ngefans kepada salah satu pemainnya, Mesut Ozil, salah satu pemain
asal Jerman yang poster-posternya telah memenuhi dinding-dinding kamarnya.
“Jam berapa?”tanyanya sambil mengucek-ucek mata.
“Jam 3.”jawabnya singkat, Desi masih serius memandangi TV, belum
separuh permainan tetapi beberapa gol sudah tercipta.
“Shalat Tahajud yuk, nontonnya dilanjut nanti saja, ba’da
shalat.”ajak Aira kepada Desi agar dia tidak hanya memikirkan kenikmatan dunia
saja, tapi akhirat juga.
“Nanggung nih, duluan aj, aku nyusul.”jawab Desi tanpa mengalihkan perhatiannya.
Aira bangkit dari duduknya, dia masih resah pada mimpinya barusan,
ada sesak terasa di dadanya. Dia mencoba mentadabburi setiap tetesan air wudhu
yang mengalir di permukaan kulitnya, sejuk hingga menyusup kepori-pori.
Perlahan sesak itu menghilang. Aira menunaikan shalat tahajud empat rakaat
ditutup dengan tiga rakaat shalat witir.
***
Matahari telah condong ke arah barat, beberapa menit lagi memasuki
waktu azhar, masjid telah ramai bersahut-sahutan dengan lantunana muratal dari
beberapa qari, mulai dari Syeikh Mishary Al-Ifasi, Syeikh Hanie Rifai, serta
Ust. Abu Usamah, lantunan Al-Qurannya kadang menyejukkan kadang pula
menusuk-nusuk hati menyesakkan dada, sehingga kita dipaksa untuk menitikkan air
mata. Aira mampir ke masjid kampus yang sudah terlihat sangat ramai. Pasti
di dalam sudah full dan mukena masjid sudah terpakai semua, untungnya aku
membawa mukena sendiri dari kost.
“Eh… Masjid di sini qarinya beda ya, bukan dari radio-radio kayak
masjid lain tapi dibaca langsung oleh qarinya.”
Masya Allah, bacaannya sangat indah. Bisik Aira dalam hati. Hatinya bergetar hebat mendengar suara itu.
Tidak asing. “Airaa..” suara dalam mimpinya teringat kembali.
***
Ar Rahman…
Allamal quran, khalaqal insan…
Suara itu. Aira tersentak mendengar suara lantunan Al-Quran yang
terdengar di Masjid dekat kostnya. Suara itu yang tadi dia dengar di masjid
kampus. Apakah dia tinggal di daerah dekat sini? tanya Aira dalam hati.
Dia penasaran kepada pemilik suara itu, karena suara itu mirip dengan suara di
dalam mimpinya. Apakah dia benar nyata?
Buru-buru Aira mengambil mukenanya, terus berangkat ke Masjid.
Untuk pertama kalinya dia shalat Subuh di Masjid dekat kostnya. Hanya karena
ingin mengetahui sang pemilik suara. Ketika berada di gerbang masjid suara itu
berhenti, Aira mempercepat langkahnya. Hanya seorang yang ada di dalam masjid. Tidak
salah lagi dialah pemilik suara itu, yakin Aira. Lelaki itu melangkah
keluar masjid menuju tempat wudhu. Aira menantinya di depan pintu masjid, dia
belum bisa melihat dengan jelas wajah lelaki itu. Saat kembali, Aira
memperhatikan wajahnya dengan seksama, karena merasa diperhatikan lelaki itupun
menatap Aira. Keduanya sama-sama terkejut. Hati Aira tiba-tiba berdesir hebat.
Airmatanya ingin tumpah. Wajahnya, matanya, mirip dengan sosok dalam mimpinya. Diakah?
Lelaki itu melemparkan senyumnya kemudian meninggalkan Aira yang
masih terlihat bingung. Lelaki itu pun terlihat gugup, dia merasa pernah
melihat wanita di depannya tadi, tapi dimana?
Entah kenapa
Aira terus mengingat lelaki yang tak dikenal namanya itu. Sejak pertemuan di
masjid itu bayang-bayangnya selalu menghiasi alam bawah sadarnya. Hingga suatu
hari Aira mendapatkan informasi tentangnya, gratis tanpa meminta. Mulai dari namanya,
aktivitasnya hingga nomer HP sang ikhwan. Dan hal yang membuat Aira lebih
tercengang lagi, ternyata mereka sepondok, hanya terpisah beberapa meter dari kamarnya. Aira juga bingung kenapa semudah itu dia bisa mendapatkannya tanpa dia
minta, apakah dia benar-benar yang ditakdirkan untukku? pikir Aira.
Pikiran yang membuat hatinya melayang serta terhempas ke tanah setelah melayang
tinggi karena dia tersadar bahwa sang ikhwan tidak mengenalnya sama sekali.
***
Tak jarang mereka berpapasan atau beriringan ketika akan ke kampus.
Ketika tiba-tiba mereka saling beradu pandangan, mereka hanya bisa kembali
tertunduk sementara hati Aira denyutannya menjadi semakin lemah, lemah, mungkin
karena sudah terlalu lelah berdesir dengan hebatnya,
Di pondok, Aira sering mendapati si ikhwan yang kini dia tahu
bernama Muflih, duduk di teras. Aira tidak bisa menahan dirinya untuk tidak
memperhatikan di balik jendela kamarnya tapi dengan segera dia beristighfar.
Atas keinginan hatinya menikmati sesuatu yang belum halal baginya.
Lantunan ayat-ayat suci mengembang dalam alunan tilawah dari MP3-nya. Getaran
hati tersayat dalam setiap alunan tilawah itu. Serasa airmatanya akan tumpah
karena dosa-dosa yang telah menjadikannya lalai mengingat-Nya.
***
Terlihat senja
telah memerah. Aira dan beberapa akhwat lainnya langsung berpamitan kepada Mbak
Farah, murabbiyah mereka. Dalam perjalanan pulang, Aira masih memikirkan materi
yang baru saja dia dapat. Munakahat,
ta’aruf.
”Jika Kak Muflih
nggk ngajak aku ta’aruf! Ya, kenapa aku harus menunggunya mengajakku . mengapa
bukan aku saja yang mengajaknya berta’aruf duluan?Bukankah bunda Khadijah
dahulu yang melamar Rasulullah?”wajah Aira berubah
cerah, malam itu juga dia menyusun proposal ta’aruf untuk diserahkan kepada
Muflih, tentu saja melalui murabbinya.
Keesokan
harinya, Aira bagai tersengat listrik ketika mendapati kabar bahwa ikhwan yang
telah memenuhi seluruh ruang dalam hatinya akan keluar negeri melanjutkan
pendidikannya. Namun sebelum pergi, Kak Muflih akan menikah terlebih dahulu,
proposal ta’arufnya telah dia serahkan kepada murobbinya dan proposal itu sudah
sampai kepada murobbiyah si akhwat yang Muflih inginkan. Berita itu dia dapat
dari pacar Desi, teman kostnya, yang merupakan teman dekat Muflih.
Hati Aira
hancur, batinnya meringkih, airmatanya tumpah meskipun telah dia tahan dengan
kuat. Ingin segera dia adukan sakitnya kepada Rabb-Nya. Dia berlari menuju
kamarnya, menutupnya rapat-rapat, mengunci, sembunyi dibalik selimut tebal. Dia
tidak ingin seorang pun tahu perih hatinya. Cukuplah Allah dan dia yang
mengetahui semua ‘kecerobohannya’ dalam memelihara hatinya sendiri.
Dikeluarkannya HP dari sakunya, mencari nama dari list phonenya. Ahmad Muflih
Najib, dia pun mengetik beberapa kata untuk dikirimkan.
Kak, aku sakit, aku
iri kepadanya yang akan segera memilikimu.
Apakah sayapmu
tidak cukup untuk membawaku juga terbang bersama kalian dalam mahligai rumah
tangga?
Sms itu urung
dikirimkannya. Kemudian beristighfar beberapa kali hingga dia tertidur. Matanya
sembab, bekas-bekas airmata sangat jelas terlukis di wajahnya, menjelaskan luka
yang teramat dalam.
Aira berusaha
bangkit dalam keterpurukannya, sudah tiga hari dia kurang nafsu makan, semangat
belajarnya menurun, dan hal yang paling membuat teman-temannya merasa heran
adalah wajah sumringah yang selalu dipamerkannya tiba-tiba menghilang, hanya
senyum tipis yang selalu menghiasi wajahnya. Tidak ada lagi celetuk-celetuk
jenaka darinya. Dia sedang berusaha bangkit, menaklukkan dirinya sendiri.
Proposal? Tiba-tiba
dia teringat proposal yang telah dibuatnya untuk Muflih. Tapi dia lupa dimana
proposal itu sekarang. Ahh bodoh amat, nggk guna juga buatku. Yang dituju
udah mau nikah.
Aku
bisa keluar dari masalah ini. Ucapnya optimis
dibarengi dengan senyum yang sangat dipaksakannya.
Akhirnya dia
bisa melupakan segalanya hanya dalam beberapa hari, wajahnya kembali ceria,
ibadahnya semakin rajin dari biasanya. Sujud dalam shalat malamnya semakin
lama. Aira sangat menikmati masa-masa berkhalwat dengan Tuhannya. Dia sadar
sudah sangat lama dia lalai dari rutinitasnya, mendahulukan Allah di atas
segala-galanya.
***
“Aira..”cegat
Mbak Farah sehabis liqa. Kening Aira mengerut, keheranan, tidak seperti
biasanya Mbak Farah menahannya sehabis liqa. Mbak Farah hanya tersenyum dan
menyerahkan sebuah amplop berwarna cokelat, warna kesukaannya.
“Apa ini,
Mbak?”Aira semakin heran dan penasaran
“Buka saja,
istikharahkan. Amplop ini sudah ada seminggu yang lalu. Tetapi Mbak lupa berikan
ke kamu, afwan ya,” ucap Mbak Farah sambil menepuk pundak Aira.
Aira membuka
amplop yang diberikan Mbak Farah, betapa terkejutnya dia saat melihat isinya.
Beberapa lembar berisi biodata dan satu lembar foto. Foto seseorang yang sangat
dia rindukan senyumnya, keteduhan wajah dan binar matanya.Benarkah dia?
Buru-buru dia
membaca lembar biodata di tangannya. Nama seorang ikhwan yang amat dikenalnya,
Ahmad Muflih Najib. Masya Allah. Alhamdulillah, Aira sangat bersyukur
atas karunia yang telah diberikannya-Nya.